Landak, Kalbar – Gelombang aksi protes kembali terjadi di lingkungan perusahaan perkebunan yang bernaung di bawah PT Posco Internasional Group Prime Agri Resources (PAR) wilayah Landak. Ratusan karyawan dari PT TTT dan PT NSA menggelar aksi tuntutan terkait dugaan ketidakadilan perusahaan terhadap karyawan lama serta penolakan terhadap pimpinan GM yang saat ini menjabat,14 .02.2026.
Dalam aksi tersebut, karyawan menyuarakan sejumlah tuntutan, di antaranya persoalan status karyawan harian lepas (KHL) yang dinilai belum diangkat menjadi karyawan tetap (KHT), meski telah lama bekerja dan produktif. Selain itu, mereka juga menyoroti karyawan yang sudah memasuki usia pensiun namun masih dipekerjakan tanpa kejelasan perhitungan hak pesangon.
Aksi juga diarahkan kepada General Manager (GM) yang dijabat oleh Kohler Tampubolon. Massa menilai kepemimpinan yang bersangkutan tidak sejalan dengan serikat buruh dan kurang mampu membangun komunikasi yang baik dengan karyawan maupun stakeholder di tingkat desa, kecamatan hingga pemerintah kabupaten.
“Kami menuntut keadilan bagi karyawan lama. Status harus jelas, hak harus dipenuhi. Kami juga meminta pergantian GM karena dianggap tidak mampu mengayomi dan meningkatkan produksi sesuai harapan,” ujar
salah satu perwakilan massa aksi.
Kepada wartawan via WhatsApp
Sabtu, 13/02/26.
Karyawan juga menilai selama kepemimpinan saat ini, produksi perusahaan tidak menunjukkan peningkatan signifikan sehingga berdampak pada hasil kemitraan petani yang dinilai belum sesuai dengan luas lahan yang telah diserahkan.
Sebagai bentuk tekanan, massa aksi menutup sejumlah kantor divisi, estate, dan KBS di area operasional PT TTT dan PT NSA. Mereka menyatakan aksi akan terus berlangsung hingga tuntutan dijawab oleh manajemen pusat.
Selain penolakan terhadap GM yang menjabat, para karyawan juga meminta manajemen PT Posco Internasional Group Prime Agri Resources (PAR) mengangkat putra daerah yang dinilai berpengalaman dan terbukti mampu memimpin operasional perusahaan di wilayah Landak.
Massa mencontohkan keberhasilan manajemen sebelumnya yang dinilai mampu membangun kebun dengan hasil baik, meningkatkan semangat kerja karyawan, hingga mencatat prestasi panen perdana kelapa sawit di usia 30 bulan.
Sampai berita ini diterbitkan, belum ada keterangan resmi dari pihak manajemen perusahaan terkait tuntutan dan aksi penutupan kantor tersebut.
Situasi di lapangan dilaporkan berlangsung kondusif dengan pengawalan pihak keamanan, sementara karyawan berharap adanya dialog terbuka dan keputusan cepat dari manajemen guna menghindari konflik berkepanjangan(Musa)











