Musi Rawas, Sumatera Selatan, mnctvano.com,- 
Pagi itu kabupaten Musi Rawas belum sepenuhnya bangun. Jalanan masih basah oleh embun, dan suara mesin motor dan mobil mulai saling bersahutan. saya duduk di atas motor.
Bagi saya menjadi jurnalist sekadar mencari nafkah. Itu adalah cara bertahan hidup. Setiap tarikan gas motorku adalah harapan, baru. jalan-jalan penu liku-liku hiruknya udara pagi dan kerasnya kehidupan
Kadang kita mendapat teman baik dan ramah, kadang pula yang cuek bahkan kasar kita siap menahan diri.kita percaya, hidup tidak selamanya di bawah. Selama masih mau berusaha, jalan akan selalu terbuka.
“Suatu hari, aku ingin menulis. Aku ingin menyuarakan kebenaran.”
Mimpi itu tidak datang begitu saja masih menyempatkan diri untuk belajar menulis menulis. apa saja tentang ketidakadilan, tentang harapan orang kecil.Tulisan-tulisan itu ia unggah ke media sosial dan blog pribadi, meski hanya sedikit yang membaca.
Pernah ia merasa ingin menyerah. Badan lelah, penghasilan tidak menentu, dan mimpi terasa terlalu tinggi untuk orang seperti saya.namun setiap kali itu pula,saya teringat keluarga dan doa yang tak pernah putus.
Kesempatan itu datang perlahan.Ada Salah satu teman yang baik hati tulisannya baik dan penuh perhatian semua orang dan berjiwa bersemangat yang tinggi yaitu Andi Yulasmai.
“Andi Yulasmai mengatakan tentang etika jurnalistik, cara wawancara, dan menulis berita yang benar.
Andi juga dikenal sebagai wartawan baik dan rendah hati, karena ia tahu betul rasanya berada di jalanan. Pengalaman sebagai jurnalist membuatnya peka pada suara rakyat kecil. Beritanya jujur, tulisannya hidup, dan hatinya tetap berpihak pada kebenaran.
Ia percaya, masa lalu bukan untuk disesali, tetapi untuk dijadikan pijakan.Dari jalanan yang panas hingga ruang redaksi, Andi membuktikan satu hal:
mimpi akan menemukan jalannya bagi mereka yang tidak berhenti berjuang.
Heri









