Hari Ibu,Gizi,Dan Masa Depan Bangsa: Ketika Peran Ibu Bertemu Tanggung Jawab Negara

banner 468x60

Karawang (Jabar), mnctvano.com – 22 Desember 2025 di peringati sebagai hari Ibu bukan sekadar perayaan tahunan dengan bunga dan ucapan kasih. Ia adalah jeda sunyi bagi bangsa untuk merenung tentang peran seorang ibu yang kerap bekerja dalam diam, memastikan anak-anaknya tumbuh sehat, kuat, dan berdaya. Dari dapur sederhana hingga meja makan keluarga, ibu adalah penjaga pertama gizi, kesehatan, dan harapan masa depan.

Di titik inilah, peringatan Hari Ibu menemukan relevansinya dengan kehadiran Badan Gizi Nasional (BGN) dan program Makan Bergizi Gratis (MBG) sebuah ikhtiar negara untuk berdiri di sisi para ibu, memperkuat peran mereka, dan memastikan tidak ada anak Indonesia yang tumbuh dalam kekurangan gizi.

Ibu dan Gizi: Fondasi yang Menentukan Masa Depan

Sejak masa kehamilan, peran ibu menentukan kualitas generasi berikutnya. Apa yang dikonsumsi seorang ibu hari ini, akan membentuk kesehatan dan kecerdasan anak di masa depan. Namun, tidak semua ibu memiliki akses yang setara terhadap pangan bergizi dan informasi kesehatan. Di sinilah kehadiran negara menjadi krusial.

BGN hadir bukan untuk menggantikan peran ibu, melainkan menguatkannya. Melalui MBG, negara memastikan bahwa pemenuhan gizi tidak hanya menjadi tanggung jawab individual, tetapi juga tanggung jawab kolektif. Anak-anak sekolah, balita, ibu hamil, dan ibu menyusui menjadi perhatian utama karena masa-masa inilah yang menentukan arah tumbuh kembang manusia Indonesia.

MBG: Dari Piring Makan Menuju Harapan

Program Makan Bergizi Gratis bukan sekadar tentang makanan. Ia adalah pesan moral bahwa setiap anak, dari latar belakang apa pun, berhak atas gizi yang layak. Setiap piring makan yang disajikan adalah simbol kepedulian, sekaligus investasi jangka panjang bagi bangsa.

Ketika anak-anak makan bersama di sekolah, mereka tidak hanya menerima asupan gizi, tetapi juga membangun kebiasaan hidup sehat, rasa kebersamaan, dan disiplin. Ketika ibu hamil dan menyusui mendapatkan dukungan gizi, negara sedang menjaga dua generasi sekaligus ibu dan anak yang dikandungnya.

Perempuan, Dapur, dan Pemberdayaan

Menariknya, MBG tidak hanya berdampak pada penerima manfaat, tetapi juga pada para pelaksana. Banyak dapur MBG digerakkan oleh perempuan ibu-ibu yang selama ini terampil mengelola pangan kini mendapatkan ruang berdaya secara ekonomi dan sosial. Dari dapur komunitas, mereka tidak hanya memasak, tetapi juga berkontribusi langsung pada masa depan bangsa.

Ini adalah makna Hari Ibu yang sesungguhnya: perempuan tidak hanya dipuja dalam simbol, tetapi diberi ruang untuk berdaya, berkontribusi, dan diakui perannya dalam pembangunan.

Hari Ibu dan Indonesia Esok Hari

Peringatan Hari Ibu menjadi lebih bermakna ketika dikaitkan dengan upaya nyata negara menjaga kualitas generasi. BGN dan MBG adalah bukti bahwa kasih seorang ibu dapat diperkuat oleh kebijakan publik yang berpihak. Bahwa cinta ibu di rumah dapat disambut oleh kepedulian negara di ruang publik.

Indonesia Emas 2045 tidak akan lahir dari gedung tinggi semata, melainkan dari anak-anak yang tumbuh sehat, cerdas, dan bermartabat. Dan di balik itu semua, selalu ada dua kekuatan yang bekerja berdampingan: ibu yang merawat dengan cinta, dan negara yang hadir dengan tanggung jawab.

Penutup

Hari Ibu mengajarkan kita bahwa masa depan bangsa dibangun dari hal-hal paling mendasar: perhatian, gizi, dan kepedulian. Melalui BGN dan Program Makan Bergizi Gratis, negara sedang menanam benih harapan di piring makan anak-anak, di tangan para ibu, dan di masa depan Indonesia.

Menghormati ibu berarti memastikan mereka tidak berjalan sendiri. Dan di situlah makna sejati peringatan Hari Ibu menemukan wujudnya.

 

 

Red: Kuswadi Ghepeng

Sumber: Ari Supit
Ketua Divisi Humas dan Kerjasama
Asosiasi Dosen dan Pengajar Ketahanan Nasional (APTANNAS)

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *