Sibolga , Sumatera Utara, mnctvano.com,- Hingga Rabu (3/6/2026), belum terlihat langkah serius dari pemerintah dalam menangani badan jalan yang putus total akibat longsor di kawasan Kelurahan Parombunan, Kecamatan Sibolga Utara, Sumatera Utara. Jalan penghubung yang menjadi akses penting masyarakat menuju kawasan Batu Lubang dan wilayah sekitarnya itu masih terbengkalai tanpa penanganan yang jelas.
Peristiwa longsor yang terjadi sejak 25 November 2025 lalu telah mengakibatkan badan jalan amblas dan tidak dapat dilalui kendaraan. Namun ironisnya, lebih dari enam bulan berlalu, masyarakat mengaku belum melihat upaya maksimal dari instansi terkait, baik dari Dinas Pekerjaan Umum Provinsi Sumatera Utara maupun Dinas PUPR Kota Sibolga.
Kondisi tersebut menimbulkan kekecewaan mendalam di tengah masyarakat. Selain akses transportasi yang lumpuh, tidak adanya rambu-rambu peringatan di sejumlah persimpangan menuju lokasi jalan putus membuat banyak pengendara roda dua maupun roda empat terpaksa berbalik arah setelah tiba di lokasi.
“Sangat kecewa kami. Pengendara banyak yang sudah jauh-jauh datang, tetapi akhirnya putar balik karena jalan putus total. Tidak ada pemberitahuan atau peringatan yang memadai di persimpangan jalan,” ungkap AG, warga Kelurahan Parombunan.
Menurut warga, lambannya penanganan jalan tersebut menunjukkan minimnya perhatian pemerintah terhadap kebutuhan dasar masyarakat. Padahal jalan tersebut merupakan jalur vital yang digunakan warga setiap hari untuk beraktivitas dan menunjang roda perekonomian.
Dengan nada penuh harap sekaligus kecewa, masyarakat menyampaikan keluhannya kepada pemerintah melalui media.
“Wahai penguasa negeri ini, lihatlah badan jalan kami yang sudah putus total. Kami butuh uluran tangan dan tindakan nyata, bukan hanya janji. Jangan biarkan masyarakat terus menderita akibat akses yang lumpuh,” ujar AG.
Warga menilai pemerintah seolah tutup mata terhadap kondisi yang terjadi di lapangan. Padahal, semakin lama dibiarkan, kerusakan dikhawatirkan semakin parah dan biaya perbaikan akan semakin besar.
Selain mengganggu mobilitas masyarakat, kondisi jalan yang putus total juga berpotensi membahayakan keselamatan pengguna jalan yang belum mengetahui kondisi terkini di lokasi longsor. Karena itu, pemasangan rambu-rambu dan pengamanan area dinilai sangat mendesak dilakukan.
Hingga berita ini diterbitkan, pihak Dinas PUPR Kota Sibolga maupun instansi terkait lainnya belum berhasil dikonfirmasi untuk memberikan penjelasan mengenai lambannya penanganan jalan yang putus akibat longsor tersebut.
Masyarakat mendesak Pemerintah Kota Sibolga, Pemerintah Provinsi Sumatera Utara, serta instansi teknis terkait agar segera turun tangan melakukan rekonstruksi dan perbaikan permanen terhadap badan jalan yang amblas.
“Kami hanya ingin akses jalan kembali normal. Jangan tunggu sampai ada korban atau masyarakat semakin dirugikan. Pemerintah harus hadir dan menunjukkan keberpihakannya kepada rakyat,” tegas warga.
Kini masyarakat menunggu bukti nyata dari pemerintah. Sebab selama berbulan-bulan, jalan yang putus total itu masih menjadi simbol lambannya penanganan infrastruktur yang seharusnya menjadi prioritas utama bagi keselamatan dan kepentingan masyarakat.
(Damianus Waruwu)





