Kasus Pengeroyokan Cafe Djembank Disorot, Ketua DPW JWI NTB Desak APH Buka Terang
MATARAM — Kasus dugaan pengeroyokan yang terjadi di Cafe Djembank, Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB), kembali mendapat sorotan. Ketua DPW Jajaran Wartawan Indonesia (JWI) NTB, M. Junaidi, mendesak aparat penegak hukum (APH) mengusut perkara tersebut secara transparan dan membuka seluruh fakta kejadian kepada publik.
Junaidi meminta agar proses penanganan kasus tersebut tidak terkesan berlarut-larut maupun menyisakan tanda tanya di tengah masyarakat. Menurutnya, setiap fakta dan rangkaian kejadian harus diungkap secara terang berdasarkan bukti serta keterangan para saksi.
«“Kami meminta aparat penegak hukum membuka kasus ini seterang-terangnya. Jangan sampai ada kesan kasus ini ditutup-tutupi. Kalau memang ada pihak yang terbukti terlibat, harus diproses sesuai hukum,” tegas Junaidi.»
Sorotan tersebut mencuat karena kondisi korban, Gede Graha Gunawan, hingga kini masih sangat memprihatinkan. Korban disebut masih menjalani perawatan di RSUP Provinsi Nusa Tenggara Barat dalam kondisi koma.
Berdasarkan keterangan keluarga, kondisi korban bahkan disebut semakin memburuk dan hingga berita ini diturunkan belum menunjukkan tanda-tanda pemulihan yang berarti.
Situasi tersebut membuat keluarga korban berharap proses hukum dapat segera memberikan kejelasan mengenai apa yang sebenarnya terjadi di Cafe Djembank.
Junaidi menilai kasus ini tidak boleh berhenti hanya pada penetapan atau pemeriksaan sejumlah pihak. Aparat, kata dia, harus mengurai secara menyeluruh rangkaian kejadian, termasuk siapa saja yang berada di lokasi, peran masing-masing pihak, serta bukti-bukti yang dapat memperkuat konstruksi perkara.
“Korban sampai sekarang masih terbaring dalam kondisi koma. Ini bukan persoalan sepele. Keluarga korban berhak mendapatkan kepastian hukum dan kejelasan mengenai siapa yang bertanggung jawab atas kejadian tersebut,” ujarnya.
Selain mempertanyakan perkembangan proses hukum, keluarga korban juga menyoroti sikap pihak Cafe Djembank. Menurut keterangan keluarga, hingga kini pihak cafe disebut belum menjenguk korban yang masih menjalani perawatan di rumah sakit.
Kondisi tersebut menambah kekecewaan keluarga yang tengah menghadapi situasi berat akibat kondisi korban.
Junaidi meminta aparat tidak hanya fokus pada aspek administratif penanganan perkara, tetapi benar-benar memastikan seluruh fakta di lapangan diperiksa secara profesional dan transparan.
Ia juga mengingatkan agar tidak ada pihak yang mendapat perlakuan istimewa dalam proses hukum.
“Siapa pun yang terlibat harus diperiksa berdasarkan hukum dan alat bukti. Jangan ada yang kebal hukum. Masyarakat sedang menunggu kejelasan dari kasus ini,” katanya.
Kasus dugaan pengeroyokan di Cafe Djembank sendiri masih bergulir dalam proses penanganan aparat kepolisian. Publik kini menunggu sejauh mana penyidik mampu mengungkap rangkaian kejadian secara utuh dan memastikan proses hukum berjalan secara transparan.
Sementara itu, pihak Cafe Djembank maupun pihak-pihak lain yang disebut dalam perkara tersebut perlu diberikan ruang untuk menyampaikan klarifikasi dan keterangannya guna menjaga keberimbangan pemberitaan.
Hingga berita ini diterbitkan, kondisi Gede Graha Gunawan masih menjadi perhatian keluarga dan masyarakat. Desakan agar aparat segera memberikan kejelasan mengenai perkara tersebut pun semakin menguat. (Dil)






