Dari Biara ke Pasar”: Sr. Maria Elfrida, PRR Menginspirasi Perempuan NTT Membangun Ekonomi Kreatif

banner 468x60

Kupang, NTT, mnctvano.com,- Ketika Kerahiman Menjadi Modal Usaha dan Kerukunan

*1. Ekonomi yang Berawal dari Perjumpaan*
Bagi *Sr. Maria Elfrida, PRR* Suster Ida ekonomi kreatif tidak lahir di ruang seminar. Ia lahir di pangkalan ojek Larantuka, di teras rumah singgah biara PRR, di tengah ceritera istri-istri ojek tentang dapur yang ngebul tipis dan anak yang butuh buku.

Bacaan Lainnya
banner 300x250

Suster Ida melihat: kemiskinan di NTT bukan karena malas. Tapi karena akses, pasar, dan kepercayaan diri yang terputus. Maka Kerahiman Allah yang ia hidupi harus turun jadi *modal paling dasar: didengar, dipercaya, diajak jalan bersama*.

*2. Komunitas Sahabat Ojek Reina Rosari: Inkubator Kerahiman*
Bersama 30 ojek dan keluarganya, Suster Ida membentuk *Komunitas Sahabat Ojek Reina Rosari*. Rumah singgah biara bukan hanya tempat melepas lelah. Ia menjadi _inkubator ekonomi kreatif berbasis kerukunan_.

Apa yang dikerjakan?
**Modal Kerahiman** **Wujud Ekonomi Kreatif Perempuan**
**Arisan** Bukan sekadar kocok uang. Jadi *crowdfunding* versi mama-mama. Uang arisan diputar jadi modal jual jagung titi, tenun mini, minyak kelapa kemasan.
**Kunjung-mengunjung** Jadi riset pasar gratis. “Ibu, di kampung sana laku bumbu apa?” Dari obrolan lahir produk baru.
**Kebun Bersama** Istri ojek, suster, dan tetangga lintas agama tanam sorgum, kelor, jahe. Hasilnya diolah: teh kelor, kue sorgum, serbuk jahe. Labelnya: *Produk Ina Reina*.
**Tenun & Anyam** Waktu tunggu suami narik ojek dipakai untuk nenun motif kecil, anyam tas lontar. Dijual online lewat HP anak-anak muda.
**Dapur Komunitas** Setiap duka dan syukur, mama-mama masak bersama. Dari situ lahir katering “Berkat Reina” untuk acara gereja, arisan, syukuran lintas iman.
*3. 4 Prinsip Ekonomi Kreatif ala Suster Ida: Feminisme yang Membumi*
Ini bukan feminisme yang menuntut kursi. Ini feminisme yang *bikin kursi sendiri, lalu ajak orang lain duduk*. Suster Ida menginspirasi perempuan NTT dengan 4 prinsip:

1. *Mulai dari yang Ada di Tangan*: Tidak tunggu bantuan besar. Ada jagung, jadikan emping. Ada sisa kain, jadikan gantungan kunci tenun. Ada HP, jadikan toko.
2. *Kerukunan itu Modal*: Pembeli pertama selalu tetangga beda agama. Pemasok kelor ya ibu dari masjid sebelah. Usaha jalan karena semua merasa memiliki. Di NTT, damai itu menguntungkan.
3. *Untung Dibagi, Ilmu Ditular*: Setiap yang bisa jahit ajari 2 orang. Setiap yang dapat pesanan online ajak 1 teman titip produk. Ekonomi kreatif versi Suster Ida tidak melahirkan bos, tapi melahirkan lebih banyak _ina_ berdaya.
4. *Laba untuk Merangkul*: Sebagian hasil usaha selalu kembali ke kas sosial komunitas: bantu ojek yang motornya rusak, anak yang putus sekolah, tetangga yang rumahnya bocor. Karena bagi Suster Ida, *ekonomi tanpa kerahiman hanya jadi angka*.

*4. Dampak Kekinian: Perempuan NTT Naik Kelas Tanpa Tinggalkan Akar*
Dari rumah singgah itu kini lahir:
– *20+ mama-mama punya pendapatan tambahan* Rp300 ribu – Rp1,5 juta/bulan dari produk kreatif.
– *Anak-anak muda ojek jadi admin medsos* untuk produk mama-mamanya. Keluarga melek digital bersama.
– *Jaringan lintas iman menguat* karena pasar tidak tanya KTP agama. Yang ditanya: “Rasanya enak, kak?”
– *Biara tidak lagi menara gading*. Ia jadi _co-working space_ Kerahiman: tempat NIB diurus bareng, logo didesain bareng, doa diucapkan bareng.

Inilah *kebangkitan wanita Indonesia versi Larantuka*: tidak teriak “aku bisa”, tapi bisik “mari kita bisa sama-sama”.

*5. Penutup: Ketika Suster Jadi CEO Kerahiman*
Sr. Maria Elfrida, PRR tidak pernah sekolah bisnis. Tapi ia paham rumus paling dasar ekonomi Kerajaan Allah: *apa yang dibagi, bertambah. Siapa yang dirangkul, bertumbuh.*

Ia menginspirasi perempuan NTT bahwa ekonomi kreatif tidak harus ke Jakarta dulu. Ia bisa mulai dari dapur, dari kebun, dari pangkalan ojek, dari biara. Syaratnya satu: *mau melihat sesama bukan sebagai saingan, tetapi sebagai rekan sepenanggungan.*

Maka jika NTT mau maju, jangan hanya bangun pelabuhan. Bangun juga lebih banyak “rumah singgah” seperti yang Suster Ida buat. Sebab dari sana lahir perempuan-perempuan yang tidak hanya pintar menenun kain, tapi juga pintar menenun masa depan.

Selamat untuk Sr. Maria Elfrida, PRR. Engkau membuktikan: tangan yang biasa memegang rosario, juga bisa memegang ekonomi umat. Dan keduanya sama-sama menyelamatkan.

Reporter

Yohanes Tafaib

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *