Kisah Komunitas Sahabat Ojek Reina Rosari Larantuka

banner 468x60

Kupang, NTT, mnctvano.com,- Keprihatinan yang Menjadi Panggilan
Di Larantuka, di antara deru motor dan debu jalan, ada suara yang sering tak terdengar: suara para ojek. Mereka bukan sekadar pengantar, tetapi tulang punggung mobilitas warga.
Di balik jaket yang lusuh, tersimpan cerita tentang cicilan yang jatuh tempo, anak yang menunggu di rumah, dan harapan yang tetap digas meski jalan hidup menanjak.

Keprihatinan inilah yang mengetuk hati *Sr. Maria Idelfin, PRR akrab disapa Suster Ida. Ia tidak datang membawa khotbah, tetapi membawa telinga yang mendengar dan hati yang mau singgah. Dari temu kangen dan ceritera hidup para ojek, lahirlah sebuah cara baru: *saling mendukung sebagai jalan terbaik menuju masa depan*.

Bacaan Lainnya
banner 300x250

*Komunitas: Ketika Biara Menjadi Rumah Singgah*
Suster Ida bergabung dan bersama para ojek membentuk *Komunitas Sahabat Ojek Reina Rosari Larantuka* dengan 30-an anggota. Yang indah: *Biara PRR menyiapkan rumah singgah bagi para ojek*.

Rumah singgah itu bukan sekadar tempat berteduh dari hujan. Ia adalah rahim sosial
tempat paling aman, hangat, penuh kasih tempat harapan bertumbuh. Di sana ojek bisa melepas helm dan lelah, bercerita tanpa dihakimi, tertawa tanpa syarat. Biara yang biasanya hening, kini ikut berdebu oleh cinta yang turun ke jalan.

*Kerahiman yang Turun ke Aspal*
Pelayanan Suster Ida tidak berhenti di ruang doa. Ia hadir dalam wujud yang sangat nyata:

*Arisan* bukan sekadar kumpul uang, tetapi simpul kebersamaan agar roda ekonomi kecil terus berputar.
Saling kunjung mengunjung karena sakit satu orang, duka satu komunitas.
*Membantu saat anggota butuh* ketika motor mogok, ketika anak sakit, ketika beras di rumah habis.
*Turun ke kebun* membantu masyarakat mengolah tanah, sebab Kerahiman Allah juga lewat cangkul dan keringat.

Inilah *Kerahiman Allah yang aktif*: tidak diam di menara gading, tetapi ikut duduk di jok belakang, ikut kepanasan di pangkalan, ikut menanam di kebun. Seperti puisi kita tadi: memeluk sebelum menghakimi.

*Makna yang Lahir: Dari Individu Menjadi Keluarga*
Komunitas ini mengubah “ojek” dari profesi menjadi persaudaraan. Dari “saya narik sendiri” menjadi “kita jalan bersama”. Dari takut gagal karena mogok di jalan, menjadi berani karena tahu ada 30 sahabat dan satu suster yang siap mendorong.

Inilah wajah Biara PRR Laranruka yang merasul di pinggir jalan. Inilah wajah Kerahiman Maria yang tidak menuntut sempurna, hanya meminta kita pulang
pada sesama, pulang pada harapan.

*Penutup: Gas Harapan di Jalan Larantuka*
Sr. Maria Idelfin, PRR dan Komunitas Sahabat Ojek Reina Rosari sedang menulis Injil dengan knalpot dan doa. Mereka membuktikan bahwa daerah, profesi dan status bukan batas bagi cinta untuk bekerja.

Karena pada akhirnya, Kerahiman Allah itu seperti ojek yang setia:
*Ia menjemput kita di titik terendah, mengantar tanpa banyak tanya, dan memastikan kita sampai di rumah.*

*Selamat untuk Suster Ida dan 30 sahabat ojek Larantuka.*
Kalian adalah embun di aspal yang panas diam, lembut, tapi memberi hidup.

Reporter
Yohanes Tafaib

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *